Sabtu, 01 Oktober 2022

Jurnal Konven Pendeta GKJ Klp.C.1 hari ke 3 WISATA JATI MALANG – Penutupan Konven (29 September 2022) – by LES.


 

Konven Pendeta GKJ Klp. C.1  akhirnya ditutup dengan acara Wisata Pantai JATI MALANG Purworejo; dengan acara:

a.      Refleksi Bersama – dlo. Pdt. Lintang Anggaeni

b.      Kesan – Pesan masing masing peserta , termasuk tuan rumah

c.       Doa Syukur

d.      Makan Bersama.

 

Peserta merasa bersyukur atas ide baik Sinode GKJ dengan model Koncen Pendeta GKJ tahun 2022  yang berbasis jemaat, yang perlu ditingkatkan adalah – keseriusan pendeta untuk mengikuti acara ini  (ada yg daftar lalu batal, ada yg ijin , ada yang sakit).  Selain itu Agenda acara  masih bisa ditingkatkan dengan mengajak masing-masing stake holder untuk ikut ambil bagian merancangnya Bersama. Juga jumlah peserta bisa ditambah. Misalnya masing-masing kelompok menjadi 15 Orang, jangan terlalu sedikit.

 

Gereja yang ketempatan juga meraya bersyukur dan antusias untuk diikut sertakan sebagai penyelenggara local, mesmkipun subsidi Sinode sedikit/kecil.

 

Sampai jumpa pada kesempatan mendatang – entah kapan.  

AMIN

 

 

Jurnal Konven Pendeta GKJ Klp.C.1 hari ke 2 JALAN SANTAI – KUNJUNGAN DIAKONIA – SHARING & SPONTANITAS SENI (28 September 2022) – by LES.

 


Jurnal Konven Pendeta GKJ Klp.C.1 hari ke 2 

JALAN SANTAI – KUNJUNGAN DIAKONIA – SHARING  &   SPONTANITAS  SENI

(28 September 2022) – by LES.

 

1). JALAN  SANTAI – SMK PENABUR ke RS PANTI WALUYO

Purworejo terkenal dengan Alun-alun  luasnya yang indah. Ringih Kembar di tengah-tengahnya; berikut  Ringin pojok di empat sudutnya.  Konon, area ini dulu tertutup – hanya digunakan untuk Latihan ketrampilan polisi dan utamanya TNI Angkatan Darat. Namun kemudian digunakan untuk area public bagi masyarakat Kabupaten Purworejo.

 

Start Jalan Santai bersama sebagian Moderamen Majelis GKJ Purworejo, dari SMK Kr Penabur – melintas alun alun – menuju RS Kr Panti Waluyo Purworejo.  Sepanjang jalan peserta konven berbincang santai diselingi kisah-kisah lucu.   Mereka berhenti sejenak dan berfoto di titik tertentu

 

 

 

Seperti kita ketahui, RS PANTI WALUYO Purworejo ,memiliki   VISI   :  "Menjadi rumah sakit yang unggul dan terpercaya bagi masyarakat"   MISI  :   (1).Menyelenggarakan pelayanan kesehatan inklusif dan berbasis digital sesuai dengan regulasi yang berlaku;  (2). Berperan aktif dalam mendukung pendidikan tenaga kesehatan;  dan  (3). Menyelenggarakan pelayanan yang mengutamakan kepuasan pelanggan.

Bermula dari Klinik Kecil di Jl. Buntu (Jl. Nyai Laos)   lalu boyong  di A. Yani 21 – di pastori Klasis Purworejo, lalu kini menjadi Rumah Sakit besar dengan Dokter Para medis, dan karyawan lebih dari 150 Orang.

 

2). PELAYANAN  DIAKONIA TRANSFORMATIF

 

GKJ Purworejo termasuk gereja yang mengembangkan Diakonia Yang Holistik, yang Transformatif. Alasannya,  bahwa  Gereja bisa hidup tanpa gedung, tetapi tidak bisa hidup tanpa diakonia.

Ada tiga model diakonia yang kita kenal , yaitu  (1).KARITATIF; dari kata charity (Inggris) yang berarrti belas kasihan. Dikaonia ini merupakan bentuk diakonia yang paling tua yang dipraktekkan oleh gereja dan pekerja sosial, yang diwujudkan dalam bentuk pemberian makanan, pakaian untuk orang miskin, menghibur orang sakit dan perbuatan amal kebajikan lainya.   (2).Diakonia REFORMATIF  Kata reformatif berasal dari kata Inggris yaitu Reform (membentuk ulang atau membaharui). Dalam hal ini Diakonia berkaitan dengan usaha membentuk kembali membaharui, atau memperbaiki situasi hidup dari kelompok yang hendak ditolong sehingga ia bukan sekedar mendapat makanan tetapi lebih dari itu ia bisa mandiri dalam mengusahakan kebutuhan hidupnya.  Diakonia reformatif ini lebih menekankan pada aspek pembangunan, pendekatan yang dilakukan adalah dengan community development, seperti pembangunan pusat kesehatan, penyuluhan, bimas, dan koperasi konvensional.   (3).Diakonia TRANSFORMATIF  Jika, diakonia karitatif digambarkan sebagai pelayanan memberikan ikan pada orang yang lapar, sedangkan reformatif atau pembangunan adalah pelayanan memberikan pancing dan mengajarkan memancing, Maka Diakonia Transformatif atau pembebasan digambarkan sebagai pelayanan mencelikkan mata yang buta dan memampukan kaki seseorang untuk kuat berjalan. Pemberian pancing dan ketrampilan memancing tidaklah berguna bila sungai-sungai dan laut sudah dimonopoli oleh orang-orang yang serakah. Rakyat kecil yang buta hukum serta mengalami kelumpuhan semangat berjuang, perlu dilayani, yaitu dengan menyadarkan hak-hak mereka. Mereka juga butuh dorongan dan semangat untuk percaya pada diri sendiri. Kata kunci dari model Transformatif adalah PEMBERDAYAAN/PENDIDIKAN.  Inilah Diakonia Holistik yang dikembangkan. Tak Heran di GKJ Purworejo dipertahankan dan dikembangkan adanya:   (a). Sekolah-sekolah Kristen – dari PAUD, TK, SD, SMK.  (b).Rumah Sakit Kristen Panti Waluyo,  (c).Radio Komunitas  MITRA FM,  (d).Koperasi Modern CU – Credit Union  Angudi Laras serta Padepokan Diakonia Mitra Kinasih

Peserta Konven Pendeta GKJ  Klp. C.1.   memiliki kesempatan untuk melihat dari dekat berbagai model Diakonia yang ada dan dikembangkan dalam kehidupan bergereja.

 

 

 

 

 

3). SHARING  “INDAHNYA  HIDUP  BERGERJA: cita-cita hidup bakti pelayanan di masa depan yang ingin diwujudkan bersama jemaat di masa mendatang”

Di GKJ Purworejo Induk   Oleh:  Pdt Kristian Prawoko – GKJ TEMON dan Pdt. Rudi GKJ PURBALINGGA

Di GKJ  PEPANTHAN  KENTENG   Oleh: Pdt Samuel Sambudi – GKJ Jonggolsari WONOSOBO dan Pdt. Yosua M Sumardi – GKJ Prembun KEBUMEN  serta  PDT. Lukas Eko Sukoco

Sedangkan yang ada Di GKJ  PEPANTHAN  SEREN   Oleh: Pdt. Youhari Sutikno  GKJ Jumo WONOSOBO  dan  Pdt. Agung Budiarto -  GKJ KEBON AGUNG JOGJA

 

Sharing tsb., selain oleh peserta Konven Pdt, secara Khusus juga  dihadiri oleh Segenap Majelis GKJ Purworejo, Pamong Kelompok dan perwakilan Kelompok-kelompok di lingkungan GKJ Purworejo.

 

 

 

4). Makan Malam dan SPONTANITAS  SENI

 

Bertempat di Kompleks Diakonia Mitra Kinasih GKJ Purworejo  segenap peserta Konven Bersama segenap majelis, pamong Kelompok serta warga yang rumahnya ketempatan peserta Konven ; hadir di Mitra kinasih.  Setelah makan malam Bersama – diteruskan Spontanitas Seni, dengan menampilkan:

a.    Duo Gitar Klasik Remaja:  ATTA – SONDANG 

b.    Orkes Karawitan Ibu-Ibu Muda Mitra Kinasih

c.    Grup Campur Sari Remaja GKJ Purworejo.

d.    Dan aneka Spontanitas peserta Konven: Ada yang menyanyikan “Ojo Dibandingke” , “Suket Teki” , “Caping Gunung” , “Ayo Ngguyu” , “Hidup ini adalah Kesempatan”, dll.

 

Yang penting asyik dan penuh  canda tawa….

Acara Makan Malam dan Spontanitas Seni baru selesai setelah melewati pkl. 21.00 di mana para peserta konven harus Kembali ke tempat menginap masing masing,

 

 

 

SELESAI   HARI  KE DUA.

Berlanjut ke Hari ke 3


Jurnal Konven Pendeta GKJ Klp.C.1 IBADAH DI GEREJA DENGAN REBANA (27 September 2022) – by LES.


Tahukah kita ? REBANA adalah salah satu alat music yang telah digunakan  pada dunia Pernjanjian lama , khususnya kitab MaZMUR. Jadi yang benar REBANA dalah sudah dipakai olh umat Tuhan dalam Alkitab.  Rebana sudah pasti -bukan milik orang Islam.

Rebana (Ibrani: תֹּף - TOF), pertama kali disebut dalam Kitab Kejadian, ketika Laban berkata kepada Yakub, setelah Yakub melarikan diri, bersama dengan istri-istrinya. Laban mengejarnya Ia memperingatkan Yakub bahwa dia dapat mengadakan acara hiburan untuk menghantarnya:

* Kejadian 31:27
LAI TB, Mengapa engkau lari diam-diam dan mengakali aku? Mengapa engkau tidak memberitahu kepadaku, supaya aku menghantarkan engkau dengan sukacita dan nyanyian dengan rebana 
(TOF) dan kecapi?    לָמָּה נַחְבֵּאתָ לִבְרֹחַ וַתִּגְנֹב אֹתִי וְלֹא־הִגַּדְתָּ לִּי וָאֲשַׁלֵּחֲךָ בְּשִׂמְחָה וּבְשִׁרִים בְּתֹף וּבְכִנֹּור׃
Translit, LAMAH NAKHBETA LIVRO'AKH VATIGNOV 'OTI VELO- IGADTA LI VA'ASYALEKHAKHA BESIMKHA UVESYIRIM 
BETOF UVEKHINOR

 

REBANA / "TOF" ini digunakan juga oleh para gembala dan juga banyak digunakan dalam banyak upacara menggunakan alat musik ini. "TOF" selalu berhubungan dengan lagu-lagu keriangan dan terhubung dengan tarian dan lagu-lagu pujian (lihat Mazmur 150:4).

 

REBANA atau "TOF" ini digunakan juga oleh para gembala dan juga banyak digunakan dalam banyak upacara menggunakan alat musik ini. "TOF" selalu berhubungan dengan lagu-lagu keriangan dan terhubung dengan tarian dan lagu-lagu pujian (lihat Mazmur 150:4).

Dan kita dapat melihat bahwa "TOF" ini digunakan berkaitan dengan lagu-lagu pujian dengan tarian ketika Israel dengan pertolongan Allah menyeberang laut yang terbelah:

* Keluaran 15:20
LAI TB, Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana (TOF) di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari.
וַתִּקַּח מִרְיָם הַנְּבִיאָה אֲחֹות אַהֲרֹן אֶת־הַתֹּף בְּיָדָהּ וַתֵּצֶאןָ כָל־הַנָּשִׁים אַחֲרֶיהָ בְּתֻפִּים וּבִמְחֹלֹת׃
Translit interlinear, VATIQAKH {dan dia mengambil} MIR'YAM {miryam} HANEVI'AH {nabi perempuan itu} 'AKHOT {saudara perempuan dari} 'AHARON {harun} 'ET- {pada} HATOF {rebana} BEYADAH {di tangannya} VATETSENA {dan mereka keluar} KHOL- {semua dari} HANASHIM {perempuan2} 'AKHAREYHA {di belakangnya} BETUPIM {dengan rebana2} UVIM'KHOLOT {dan dalam tarian2}



Para wanita itu menaikkan pujian kepada Allah atas mujizat yang besar yang baru mereka alami dengan lagu, musik dan tari. Adegan lain yang terkenal perayaan dengan alat-alat musik (termasuk rebana) yang dilakukan Daud bersama seluruh bangsa Israel :

* 2 Samuel 6:5
LAI TB, Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, 

וְדָוִד וְכָל־בֵּית יִשְׂרָאֵל מְשַֽׂחֲקִים לִפְנֵי יְהוָה בְּכֹל עֲצֵי בְרֹושִׁים וּבְכִנֹּרֹות וּבִנְבָלִים וּבְתֻפִּים וּבִמְנַֽעַנְעִים וּֽבְצֶלְצֶלִֽים׃
Translit, VEDAVID VEKHOL-BEIT YIS'RA'EL MESAKHAQIM LIFNEY YEHOVAH (dibaca: 'Adonay) BEKHOL 'ATSEY VEROSYIM UVEKHINOROT UVIN'VALIM UVETUPIM UVIM'NA'AN'IM UVETSELTSELIM


Itulah sebabnya , di GKJ Purworejo mengembangkan alat music Rebana, selain Organ/Piano, Kulintang & Angklung, Keroncong , Campursari dan Karawitan. Yang  mangayubagya , hadir  dan Tampil  dal Pembukaan/Penerimaan  Konven kali ini  adalah Grup REBANA  GKJ Purworworejo (pimpinan ibu Kuwat Welas).

 

Kebaktian Penerimaan Peserta Konven Pdt GKJ , Klp. C.1, terasa sangat meriah dan penuh semangat. Hadir 8 Orang peserta Konven Klp. C.1, yaitu:  Pdt. Saryoto (GKJ Magelang), Pdt. Samuel Sambudi (GKJ Jonggolsari  Wonosobo) Pdt. Youhari S (GKJ Jumo Temanggung, Pdt. Rudiarto (GKJ Purbalingga), Pdt. Agung Budiarta (GKJ Kebon Agung, Jogja), Pdt. Kristian Prawoko (GKJ Temon Kulonprogo), Pdt. Yosua M. Sumardi (GKJ Prembun Kebumen) dan Pdt. Lukas Eko Sukoco (GKJ Purworejo – peserta merangkap fasilitator). Renungan Singkat dipimpin oleh Pdt. Lukas E. Sukoco.


Acara hari pertama ditutup dengan Perkenalan, sharing “indahnya hidup Bersama dalam komunitas Gereja Kristen jawa”  serta perjamuan kasih di Gedung GKJ Purworejo yang baru – di Jl, Kol. Sugiyono  55 Purworejo 54114.  Hadir dalam acara ini adalah  Pamong Kelompok, Segenap anggota Majelis GKJ Purworejo serta para pengisi acara. Lalu para peserta menuju ke tempat menginap – di rumah rumah warga jemaat.

 

 

 

 

Jumat, 30 September 2022

Mengalami Perjumpaan dengan Tuhan (Lukas 19:1-10)




Mengalami Perjumpaan dengan Tuhan

Lukas 19:1-10

Kisah perjumpaan Zakheus dengan Yesus hanya dicatat dalam Injil Lukas. Injil Matius, Markus dan Yohanes tidak memuat kisah ini. Itu tidak berarti bahwa kita boleh meragukan kebenaran kisah ini. Yohanes menyebutkan bahwa ada begitu banyak tanda (karya) yang dilakukan Yesus namun tidak semuanya tercatat dalam tulisannya (Yohanes 20:30 dan 21:25). Jadi, sangat bisa dipahami bila kisah Zakheus tidak ada di Injil Yohanes dan Injil yang lain.

Lukas tentu memiliki kesan tersendiri atas peristiwa perjumpaan Zakheus dengan Tuhan Yesus, sehingga ia mencatat hal ini dalam kesaksiannya. Perjumpaan Zakheus dengan Tuhan Yesus adalah peristiwa yang istimewa.

 

Semula, Zakheus hanya ingin melihat seperti apa Yesus itu. Keinginannya sangat besar sehingga ia berusaha keras untuk bisa melihat Yesus. Dalam kerumunan orang banyak, ia tidak berhasil melihat Yesus, karena itu ia berlari “mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus”. Zakheus, kepala pemungut cukai, orang yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat, mau memanjat pohon ara hanya untuk melihat Yesus. Ia tidak memikirkan bagaimana tanggapan orang bila melihat perbuatannya itu. Ia tidak peduli meskipun mungkin akan di-bully, “wong tuwa kelakuane kaya bocah”.

 

Tuhan Yesus rupanya tahu apa yang dilakukan Zakheus dan isi hatinya. Tuhan Yesus menghampiri Zakheus dan menyapanya. Tuhan Yesus bahkan mengatakan bahwa Ia akan menumpang di rumah Zakheus. Alkitab bahasa Yunani menggunakan kata μείναι yang artinya tinggal, LAI menerjemahkannya menumpang. Yesus mengatakan bahwa Ia ingin tinggal sementara waktu di rumah Zakheus. Pernyataan Tuhan Yesus mengejutkan banyak orang, namun Zakheus menyambutnya dengan sukacita.

 

Meskipun orang banyak tidak berhenti bersungut-sungut dan menghakimi “Ia menumpang di rumah orang berdosa” (ayat 7), namun Yesus tetap teguh dengan pendirian-Nya “untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (ayat 10). Apa yang dilakukan Tuhan Yesus telah menyentuh Zakheus pada hatinya yang terdalam. Zakheus yang selama ini banyak dibenci dan tidak disukai, kini merasakan indahnya dicintai. Cinta dan perhatian Tuhan Yesus menolongnya untuk berubah. Tanpa diminta dan tanpa dipaksa, Zakheus menyatakan komitmennya untuk membagikan hartanya kepada orang miskin. Bahkan Zakheus mau menanggung konsekwensi atas kesalahan yang mungkin pernah diperbuatnya di masa lalu. Ini menjadi bukti kesungguhan Zakheus untuk berubah menjadi lebih baik.

 

Perjumpaan Zakheus dengan Tuhan Yesus membuahkan berkat bukan hanya bagi pribadi Zakheus, tetapi juga untuk keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Tuhan Yesus berkata, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini…”. Kata rumah tentunya tidak menunjuk pada sebuah bangunan, tetapi menunjuk pada keluarga yang tinggal dalam rumah itu. Zakheus menjadi berkat bagi keluarganya. Selain itu, komitmen Zakheus untuk membagikan hartanya kepada orang-orang miskin dan mengganti kerugian mereka yang pernah diperasnya merupakan berkat bagi masyarakat di sekitarnya.

 

REFLEKSI  DIRI

Dalam hidup sehari-hari kita senantiasa mengalami perjumpaan demi perjumpaan. Baik perjumpaan dengan sesama manusia, perjumpaan dengan keadaan, peristiwa maupun persoalan hidup. Namun seringkali perjumpaan-perjumpaan itu berakhir tanpa makna. Begitu pun perjumpaan kita dengan Tuhan, baik secara pribadi maupun bersama dalam sebuah komunitas. Perjumpaan melalui doa, persekutuan ibadah atau kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan terkadang seperti tidak menghasilkan apa-apa.

Melalui kesaksian Injil Lukas 19:1-10 kita diajak untuk belajar menghayati perjumpaan kita dengan Tuhan, sehingga kita menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Dimana kita menemukan diri kita berada dalam persekutuan dengan Tuhan dan sesama. Sehingga kita menyadari arti dicintai untuk mencintai. Sejatinya, Tuhan lebih dulu mencintai kita agar kita terus belajar mencintai Tuhan dan sesama.

 

 

PENDALAMAN

Kisah Zakheus adalah kisah tentang perubahan hidup. Zakheus yang tidak disukai banyak orang, menjadikan dirinya dan keluarganya seolah terasing dari masyarakat. Hidup bergelimang harta tetapi miskin cinta. Namun perjumpaannya dengan Tuhan Yesus telah mengubah  dan memperbaiki  hidupnya.

 

Melalui kesaksian Injil Lukas 19:1-10 kita diajak untuk belajar menghayati perjumpaan kita dengan Tuhan, sehingga kita menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Dimana kita menemukan diri kita berada dalam persekutuan dengan Tuhan dan sesama. Sehingga kita menyadari arti dicintai untuk mencintai. Sejatinya, Tuhan lebih dulu mencintai kita agar kita terus belajar mencintai Tuhan dan sesama.

 

APAKAH  KITA  SEBAGAI  PENGIKUT KRISTUS  TELAH  MENGALAMI  PERJUMPAAN  YANG MENGUBAHKAN  SEPERTI  YANG TERJADI PADA  DIRI  ZAKHEUS?

BAGAIMANAKAH  TANGGAPAN  KITA  TERHADAP  HAL INI?   (LES)

 

Kamis, 05 November 2009

DINAMIKAN IMAN : HPKD dan HPII




HARI PERJAMUAN KUDUS SEDUNIA 2009: Ada Pengenalan Perjamuan Kudus Anak




(4).
HPKD - HPII (Hari Perjamuan Kudus seDunia - Hari Pekabaran Injil Indonesia) dilakukan pada tgl. 4/10 - 2009 di GKJ Pwr Induk. Kebaktian Minggu ini terasa istimewa karena muncul isian-isian Paduan Suara serta Kebaktian dengan Singers dan Song Leader.


Pada kesempatan tsb., selain mengisi PADUAN SUARA, anak-anak Sangkakala dan anak-anak Sekolah Minggu lainnya menerima kesempatan untuk PENGENALAN PERJAMUAN KUDUS.
Majelis memandang perlu anak-anak diperkenalkan dengan Makna Perjamuan Kudus. Dan mereka juga dilayani secara khusus (dengan sirup + roti) untuk bisa ikut menghayati bersama orangtua mereka yang memang sedang menerima pelayanan Perjamuan Kudus.